Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/u4720160/public_html/wp-includes/post-template.php on line 310

Oleh : Putra Pratama ( Mahasiswa Hubungan Internasional 2018)

 

Belajar hubungan internasional bukanlah sekadar upaya memahami “bahasanya”, tapi juga upaya untuk menggambarkan, menjelaskan, dan meramalkan fenomena internasional. Inilah yang dibicarakan dengan mudah (dan asyik) dalam buku “Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi” karya Mohtar Masoed, guru besar hubungan internasional Universitas Gadjah Mada.h
Buku ini dicetak pada tahun 1990, oleh LP3ES, Jakarta. Sejak awal, Mohtar menggambarkan buku ini sebagai “alat” bagi para pembaca yang ingin mempelahari “bahasa” hubungan internasional. Yakni, tentang “cara berpikir” yang diperlukan untuk memahami fenomena dalam topik ini.
Ia berpendapat bahwa untuk mempelajari ilmu hubungan internasional, para pemula diharuskan terlebih dahulu menguasai, “bahasanya”, yaitu tentang konsep-konsep yang ada di dalam ilmu ini. Lalu, setelah menguasai tahap pertama, pengkaji bisa loncat ke tahap berikutnya, yakni menggunakan ketrampilan “berbahasa”.
Yakni, menggunakan konsep yang telah dikuasai, untuk “mengatakan sesuatu” tentang hubungan internasional. Dengan kata lain, buku ini merupakan upaya Mohtar untuk membahas ilmu ini secara epistemologis, yaitu soal bagaimana pengetahuan dalam fenomena hubungan internasional itu diperoleh.
Untuk mencapai tersebut, Mohtar membagi buku ini dalam dua bagian. Bagian satu membahas tentang beragam perspektif yang ada dalam perkembangan ilmu ini, serta makna, ruang lingkup, hingga tingkat analisa.
Bagian kedua membahas tentang metodologi, yaitu tentang bagaimana cara ilmuwan membangun teori tentang hubungan internasional. Bagian ini menerangkan secara jelas soal apa itu konsep, generalisasi, hingga pembuatan teori.
Secara khusus, dalam buku ini memfokuskan bahasannya pada bagian kedua, soal metodologi. Ia mencoba menjelaskan bahwa fenomena HI, meski tergolong dalam fenomena sosial, punya keajegan tertentu untuk bisa diramalkan layaknya fenomena alam.
Bagian pertama menurut hemat penulis hanya merupakan pengantar untuk menyelam ke bagian kedua yang lebih kompleks. Meski demikian, bagian pertama punya peran penting untuk mengantarkan pembaca menuju bagian kedua. Maka dari itu, ia lebih layak bila disebut sebagai fondasi terhadap struktur yang lebih besar dan kokoh.
Pada bagian pertama, mengenai perspektif ilmu HI, dibahas perkembangan ilmu ini lewat pembabagan sejarah. Mohtar dengan ringkas namun asyik menjabarkan perkembangan studi Hubungan Internasional lewat kisah beralur lampau ke masa kini. Dari mulai HI sejak pra perang dunia kedua, pasca perang dunia kedua, kala revolusi behavioralis dan pasca behavioralis.
Ketika berbicara soal perspektif ilmu HI, maka kiranya memang diperlukan untuk membahasnya dari awal mula ia muncul sebagai keinginan untuk menciptakan sebuah dunia yang lebih damai, hingga upaya kaum behavioralis, yang mencoba untuk “mensaintifikan” ilmu ini.
Pada awal mula, ilmu ini berfokus pada upaya memahamai mengapa konflik terjadi, dan bagaimana menciptakan perdamaian di dunia. Fokus kajian ilmu ini pada waktu itu berkutat pada hukum internasional, organisasi internasional, dan juga sejarah diplomasi.
Lalu, pasca perang dunia kedua, ilmu ini didominasi oleh paradigma realis yang mencoba menerangkan jika kekuasaan atau power adalah variabel yang paling mampu menjelaskan perilaku internasional.
Sebab, politik internasional, menurut Morgenthau, “….seperti halnya semua politik, adalah pejuangan memperoleh kekuasaan. Apapun tujuan akhir dari politik internasional, tujuan menengahnya adalah kekuasaan”, Hans J. Morgenthau, Politics Among Nations.
Sekalipun pandangan ini begitu lekat dalam ilmu hubungan internasional pasca perang dunia kedua, namun realismenya Morgenthau dkk tak lekang oleh pengkritik yang menekankan pendekatan yang lebih “saintifik” dalam mengkaji ilmu ini.
Penolakan terhadap konsep kekuasaan sebagai unsur pokok analisa hubungan internasional semakin diperkuat dengan timbulnya gerakan pembaharuan dalam studi politik dan hubungan internasional di Amerika Serikan pada 1950-an dan 1960-an. Gerakan ini mendorong studi hubungan internasional ke arah penciptaan teori yang eksplanatoris dan prediktif, yakni teori yang bisa menjelaskan dan meramalkan.
Sebuah Upaya Baru
Buku ini menawarkan upaya baru untuk mempelajari hubungan internasional secara saintifik. Pada bagian kedua, Mochtar memfokuskan bahasannya pada bagaimana ilmuwan membangun pengetahuan tentang Hubungan Internasional.
Secara ringkas, hubungan internasional sendiri bisa dipelajari lewat dua cara, Mochtar sendiri penyebutnya sebagai jalan “tradisional” dan “saintifik”. Pada jalan kedua, yaitu pendekatan saintifik, ilmu hubungan internasional dipelajari lewat pola-pola dan kecenderungan sehingga bisa melakukan ramalam tentang apa yang mungkin akan terjadi dalam hubungan internasional.
Dengan kata lain, ilmu hubungan internasional mencoba untuk menggambarkan, menjelaskan, dan meramalkan fenomena internasional melalui pemakaian teori yang digunakan untuk menganalisa.
Pada dasarnya, proses ini mengandung tiga prosedur yang saling berkaitan, yaitu : 1. Pembentukan hipotesa yang bisa diuji ; 2. Pengujian hipotesa ; 3. Pengumpulan, pembandingan dan pengintegrasian penemuan dari berbagai pengujian dan berbagai hipotesa.
Menurut Moechtar, cara kedua ini lebih mudah dibanding cara pertama. Sebab, siapapun yang hendak mempelajarai ilmu hubungan internasional bisa melakukan kegiatan analisa dengan menerapkan tiga proses di atas, dan dengan menguasai teorinya.
Dengan kata lain, pengkaji hanya perlu memilih fenomena internasional, dan memilih tingkat analisanya. Apakah mau menganalisa di tingkat negara, sistem internasional, birokrasi, atau di level pemimpin. Memang tidak mesti mudah, namun ini akan “memudahkan” siapapun yang ingin mempelajari ilmu hubungan internasional.
Saya merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan yang wajib bagi mahasiswa ilmu hubungan internasional. Sebab, buku ini menerangkan secara komprehensif soal bagaimana sebuah fenomena internasional dianalisa lewat teori. Adapun, fungsi praktisnya ialah buku ini bisa membantu mahasiswa untuk memahami bagaimana menjawab rumusan masalah dalam karya tulis ilmiah, utamanya skripsi.

Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi
Mohtar Masoed
LP3ES
Jakarta, 1990

 

By medinfo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *