Movie Review: The Day After Tomorrow

Pengenalan

Film bergenre science-fiction yang disutradarai oleh Roland Emmerich, seorang sutradara berkebangsaan Jerman ini dirilis pada 28 Mei 2004 di Amerika Serikat. Rumah produksi dari film ini adalah 20th Century Fox yang mana telah melahirkan beberapa film terkenal seperti Deadpool, Bohemian Rhapsody, Avatar,Titanic, dan sebagainya. Jika dilihat dari kategori film berpenghasilan terbanyak, The Day After Tomorrow menempati posisi 45 di dunia dengan jumlah penghasilan sebanyak US $542,771,772. Film yang diangkat dari novel berjudul The Coming Global Superstorm (1999) karya Art Bell dan Whitley Strieber Film ini memiliki cerita yang bisa dikatakan sedikit mirip dengan film 2012, sebuah film yang mengisahkan tentang bencana di muka bumi ini.

Sinopsis

Film ini dimulai dengan adegan Jason (Dash Mihok) melakukan pengeboran di Larsen Ice Shelf, benua Antartika untuk mencari sampel inti es yang mana nantinya akan diberikan pada NOAA. Seketika retakan besar tercipta seperti membelah benua tersebut. Jack Hall (Dennis Quaid) dan Frank (Jay O. Sanders) yang pada saat itu tengah meneliti, terkejut dengan suara gemuruh yang tak biasa. Lalu mereka pun mendapati Jason hampir terperosok dalam retakan tersebut. Jack menyadari sesuatu yang besar akan terjadi.

Jack mempresentasikan temuannya pada Konferensi Pemanasan Global Perserikatan Bangsa-Bangsa di New Delhi, India. Acara tersebut dihadiri oleh diplomat-diplomat dan Wakil Presiden Amerika Serikat, Kenneth Welsh. Dia mengatakan bahwa terjadi pemanasan global di bumi pada 10 ribu tahun lalu yang mana menyebabkan berubahnya iklim bumi menjadi Zaman Es. Selain itu, ia juga meramalkan bahwa kejadian tersebut dapat terjadi lagi dalam kurun waktu 100 hingga 1.000 tahun dari sekarang, jika manusia di Bumi tidak berhenti menciptakan polusi pada atmosfer. Namun, banyak dari mereka yang tidak percaya ramalan Jack, bahkan wakil presiden Amerika Serikat sekalipun. Hanya beberapa yang mencoba mempercayainya termasuk Profesor Terry Rapson (Ian Holm) dari Hedland Climate Research Centre di Skotlandia.

Tak lama setelah itu, ramalan Jack terbukti adanya. Jack tidak mengira akan secepat itu. Di seluruh dunia telah terjadi cuaca ekstrim secara massal. Di Chiyoda, Jepang telah terjadi hujan batu es sebesar bola. Lalu serangkaian angin topan telah menghancurkan kota Los Angeles. Awal pendinginan global sudah dimulai, ditandai dengan tiga Helikopter RAF yang masuk ke mata badai superstorm, sehingga bahan bakar beserta awaknya membeku. Ini disebabkan oleh turunnya suhu di bawah -150 °F(-101,1 °C).

Seakan tak cukup sampai di situ, putra Jack, Sam Hall (Jake Gyllenhaal) beserta teman-temannya harus terjebak di dalam perpustakaan untuk menghindari banjir besar yang tengah terjadi di New York. Sam mencoba untuk menelpon ayahnya dengan telepon umum yang hampir tenggelam. Dia menceritakan bagaimana kondisinya kepada ayah dan ibunya. Ayahnya merespon dengan mengatakan bahwa ia akan datang kepadanya. Jack juga memperingati Sam untuk tidak keluar dari perpustakaan itu dan menghangatkan diri.

Jack akhirnya memutuskan untuk menjemput Sam setelah melaporkan apa yang sedang terjadi terhadap Presiden Amerika Serikat, Perry King. Solusi yang diberikan oleh Sam adalah mengungsikan semua orang ke Selatan. Solusi tersebut sempat mendapat pertentangan dari Wakil Presiden Amerika Serikat, Kenneth Welsh. Namun, presiden dengan tegas menyetujui solusi tersebut dan dimulailah evakuasi.

Jack beserta dua temannya pergi menjemput anaknya dengan berjalan di atas salju. Dalam perjalanan menuju putranya, Jack harus kehilangan satu teman setianya yaitu Frank. Setelah melewati berbagai rintangan, Jack dan Sam akhirnya dapat bertemu dan terselamatkan.

Kelebihan

Pengorbanan adalah salah satu hal yang sering terlihat di film The Day After Tomorrow. Mulai dari Jack yang rela pergi berjalan kaki menuju anaknya, lalu dua orang rekannya, Jason dan Frank yang menemaninya hingga Frank harus gugur di dalam perjalanan. Ada Lucy yang menunggu ambulan untuk Petter hingga presiden yang memilih dievakuasi terakhir yang menyebabkan dia tak selamat. Sebuah adegan yang sangat dalam maknanya.

Sesungguhnya amanat inti dari cerita ini adalah kelebihan yang sesungguhnya. Sebuah amanat yang sangat penting untuk kelangsungan bumi ini. Pertama, seharusnya manusia dapat menjaga bumi ini. Kedua, Lakukanlah pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Gunakanlah SDA dengan sebaik-baiknya. Dan janganlah menunda-nunda untuk melakukan hal terbaik untuk bumi kita. Bahkan di awal film ini, salah satu teman Sam juga sudah memberi sinyal tentang hal ini yaitu saat mengunjungi sebuah museum dan melihat seekor mamut yang sedang makan tiba-tiba mati membeku. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

For years we operated under the belief that we could continue consuming our planet’s natural resources without consequences. We were wrong. I was wrong.”-Kenneth Welsh.

Kekurangan

Efek visual dari film ini memang terasa nyata namun ada ada adegan yang tidak masuk akal, seperti Patung Liberty yang masih berdiri kokoh meskipun telah diterjang banjir bandang sebesar itu.

Terlepas dari kekurangannya, film ini memiliki amanat yang bagus. Semoga kita dapat ambil sisi positifnya. (Rating: 7/10)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *