UWH Bersama Kemenlu Mengadakan Public Lecture: Perlindungan WNI di Luar Negeri

  • nfs 
WhatsApp Image 2019-09-01 at 13.45.16

SEMARANG, HIMAHIUWH.OR.ID- Acara kolaborasi antara Kemenlu dengan Unwahas, Public Lecture telah sukses diselenggarakan di gedung B kampus 1, Unwahas (29/08). Bertemakan “Perlindungan WNI di Luar Negeri”, acara ini menghadirkan salah satu Duta Besar Indonesia, Dr. Andi Hadi, S.H., LL.M. Acara yang ditujukan kepada seluruh mahasiswa Unwahas ini merupakan serangkaian acara Diplofest dari Kemenlu.

Sambutan Dekan FISIP Unwahas, Agus Riyanto, S.IP., M.Si. mengawali jalannya acara tersebut. Selanjutnya, Rektor Unwahas, Prof. Dr. Mahmutarom S.H., M.H. memberikan sambutannya dan dilanjutkan pemberian cenderamata kepada Dubes Indonesia, Andi Hadi. Setelah itu, Choir Unwahas menyanyikan Himne Unwahas sekaligus Yaa Lal Wathan. Dosen FISIP Unwahas, Ali Martin S.IP., M.Si. juga tak lupa memberikan sambutannya.

Andi Hadi selaku pembicara memberikan pemamahamannya mengenai tema “Perlindungan WNI di Luar Negeri”. Menurutnya adanya Kemenlu ini salah satunya tak lain untuk menghadirkan kembali negara yang melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman terhadap WNI di luar negeri. Jadi, perlindungan WNI di luar negeri merupakan salah satu prioritas Kemenlu. Untuk menjalankan prioritas tersebut dibutuhkan tiga strategi yaitu pencegahan, deteksi dini, dan respon cepat, “Dalam strategi pencegahan, kita mencegah WNI yang ke luar negeri dengan cara ilegal. Ketika WNI sudah di luar negeri kita harus melakukan deteksi dini yaitu melindungi mereka. Lalu ketika dihadang suatu masalah kita akan melakukan strategi ketiga yaitu respon yang cepat,” jelasnya.

Duta Besar Indonesia, Dr. Andi Hadi, S.H., LL.M. dalam menyampaikan sambutannya.

Andi Hadi juga memberikan beberapa contoh kasus yang sering dihadapi Dubes Indonesia, salah satunya adalah kasus overstay atau pelanggaran melebihi batas tinggal, “Biasanya WNI yang melakukan overstay itu sehabis umrah atau haji, mereka membuang paspor mereka dan kerja di sana. Pada akhirnya mereka akan melakukan overstay dan berakhir dipulangkan ke Indonesia,” jelasnya. Kasus lainnya adalah penyanderaan, contohnya seperti kasus penyanderaan WNI yang dilakukan oleh Abu Sayyaf, kelompok separatis yang berbasis di kepulauan selatan Filipina. Untuk membebaskan WNI tersebut dibutuhkan negosiasi yang panjang dengan pemerintah setempat, pemuka agama berpengaruh, dan sebagainya. Selain dua kasus tersebut, kasus hukuman mati dan perdagangan manusia juga sering dihadapi oleh Dubes Indonesia.

Sebagai pencegahan atas kasus-kasus yang menimpa WNI, Kemenlu telah membuat suatu Inovasi yang di antaranya adalah save travel, portal peduli, dan sebagainya. Andi Hadi juga berharap agar ke depannya jika ada yang pergi ke luar negeri untuk segera melapor ke keduataan, “Kalian jika mendapat beasiswa sekolah di luar negeri segera melapor ke kedutaan,” sambungnya. Selain itu, Andi Hadi juga mengatakan bahwa di balik nama keren seorang diplomat, terdapat sebuah perjuangan keras yang dilakukan mereka untuk menyelamatkan WNI di luar negeri.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah dan foto bersama. Terakhir, Dr. Ismiyatun, M.Si. selaku Ketua Panitia berharap bahwa dengan diadakannya acara ini mahasiswa dapat menambah wawasannya dan FISIP Unwahas dapat menambah link kerjasamanya. (nfs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *